200 Pekerja Magang Indonesia di Jepang Minati Waralaba

200 Pekerja Magang Indonesia di Jepang Minati Waralaba

Sekitar 200 pekerja magang Indonesia atau kensusei yang berada di wilayah Kansai (Osaka, Kobe dan Kyoto). Terlihat antusias mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh para pembicara. Terutama saat mengupas topik mengenai peluang usaha di tanah air sekembalinya mereka dari Jepang nanti.

Para pekerja magang atau akrab disebut kensusei, Minggu siang itu, memadati ruangan Sanbo Hall, di kota Kobe. Untuk mendengarkan paparan mengenai pelatihan wirausaha yang digagas bersama Konsulat Jenderal RI di Osaka. Perusahaan pengerah tenaga kerja Jepang IMM, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang dan Bank Indonesia (BI) Tokyo.

Ratusan pekerja yang berusia rata-rata 22 tahun itu menyimak dengan tertib berbagai peluang usaha yang ditawarkan para pembicara, baik mengenai jenis kegiatan usahanya. Peluang memperoleh kredit, akses pasar, hingga memperoleh pendampingan selama berusaha.

Begitu moderator membuka ruang tanya jawab, dengan segera acungan tangan pun bermunculan ke udara. Setelah dicatat, para pekerja umumnya mengajukan pertanyaan mengenai prospek bisnis usaha waralaba (franchise), baik itu dibidang makanan, bengkel, pendidikan ataupun sekolah musik dan salon.

Ada juga yang berminat untuk membuka usaha sendiri ataupun mencari mitra bisnis yang sejalan. Namun umum mereka buta atau awam sama sekali dengan kegiatan bisnis dan bagaimana memanfaatkan modal yang diperolehnya setelah bekerja keras selama tiga tahun di Jepang.

Bayu, Aan, dan Purwanto, sepertinya mewakili kebanyakan rekan-rekannya yang ingin mengetahui masa depan bisnis waralaba di Indonesia. Purwanto, kensusei dari kota Nara, bahkan ingin sekali membuka bengkel motor, namun tidak tahu harus bagaimana.

Peluang bisnis waralaba tetap baik, namun yang penting adalah niat untuk menjalankan bisnis secara serius, mengingat persaingan yang ketat dalam bisnis itu sendiri. Rekan-rekannya pun menganggukan kepala mereka, tanda setuju degan kegiatan yang dinilainya memberikan pengetahuan baru.

Sementara itu, Kozo Komatsu, Managing Director IMM, mengatakan, para kensusei Indonesia umumnya merupakan pekerja yang baik. Mereka juga rajin mengirimkan uang kepada keluarganya di Indonesia.

Para pekerja itu mendapatkan modal yang cukup besar setelah bekerja keras selama tiga tahun. Rata-rata membawa pulang uang sekitar Rp100 juta – Rp350 juta per orang. Uang itu diperoleh para pekerja, dari upah yang disisihkan, kemudian tambahan tunjangan hari tua dan tambahan dari IMM yang totalnya bisa mencapai 3 juta yen.

Dari kegiatan tersebut terlihat sebagian besar para pekerja magang Indonesia (kensusei) banyak yang tidak memiliki pengetahuan untuk memanfaatkan modal yang telah diperolehnya. Padahal mereka merupakan tenaga kerja yang terdidik, terampil dan memiliki modal yang cukup besar.

Pihak Bank Indonesia sendiri menyampaikan bahwa pelatihan wirausaha itu mendapat dukungan penuh dari BI. Termasuk juga mempersiapkan kegiatan pendampingan setibanya di Indonesia nanti. Program pendampingan diberikan untuk mengarahkan calon pengusaha tersebut memiliki arah yang jelas dalam menjalankan bisnisnya.

Source https://www.merdeka.com/ https://www.merdeka.com/uang/200-pekerja-magang-indonesia-di-jepang-minati-waralaba-v947hi3.html
Comments
Loading...