Ancaman Waralaba Asing Terhadap Kuliner Tradisional

Ancaman Waralaba Asing Terhadap Kuliner Tradisional

Waralaba kuliner asing yang tumbuh cukup pesat di Indonesia mengancam keberadaan kuliner tradisional. Karena tidak mampu membatasi, pemerintah berinisiatif memeranginya dengan mempromosikan 30 ikon kuliner tradisional Nusantara melalui dunia pendidikan, perhotelan, restoran, dan ke luar negeri.

Pertumbuhan waralaba asing itu turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat Indonesia. Banyak konsumen yang memilih makanan asing ketimbang makanan tradisional Indonesia sehingga makanan tradisional semakin tersisih.

Pertumbuhan waralaba dan restoran asing juga menyebabkan pertumbuhan koki masakan Nusantara lambat. Ketika Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mempromosikan 30 IKTI di Belanda, restoran-restoran di negara tersebut masih kekurangan koki yang mampu memasak kuliner-kuliner itu.

Dari semula 10 restoran di Belanda yang bersedia untuk menyediakan 30 IKTI. Hanya empat restoran yang memiliki koki yang mampu memasak kuliner tersebut. Untuk itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sedang membuat draf instruksi presiden yang ditujukan kepada sembilan kementerian, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.

Salah satunya adalah menginstruksikan setiap dinas pendidikan di Indonesia mewajibkan sekolah-sekolah kejuruan bidang jasa boga mengajarkan 30 IKTI. Salah satu menu Sup Gurami khas Bandung. Di Indonesia tumbuh cukup pesat, dari 29 waralaba pada 1990 menjadi 350 waralaba pada 2013.  Pada tahun itu, waralaba asing tumbuh 6-7 persen, sedangkan waralaba lokal hanya 2-3 persen.

Source https://travel.kompas.com/ https://travel.kompas.com/read/2014/03/20/1628336/Waralaba.Asing.Ancam.Kuliner.Tradisional
Comments
Loading...