Bisnis Kedai Mi Gaul

Bisnis Kedai Mi Gaul

Menu mi kekinian sempat populer beberapa waktu lalu. Terutama di kalangan kawula muda. Lantaran ada ragam taburan menu di atas mie yang berbahan dasar mi instan tersebut. Tak sekadar telur atau kornet, ada pula keju, ayam panggang hingga daging steik.

Kreasi tersebut berhasil menyedot perhatian pecinta kuliner. Karena penasaran dengan kudapan yang tidak biasa tersebut. Imbasnya bisa ditebak. Satu per satu para pengusaha mulai membuka usaha kuliner tersebut dan mulai menjamur. Tak cuma di area Jakarta saja, tapi juga sudah sampai ke pinggiran Jakarta.

Persaingan di bisnis kedai yang juga disebut Indomie gaul tersebut  semakin ketat. Kondisi ini membuat para pebisnis harus mencari cara supaya tidak kehilangan konsumen. Ria Wardani, Sekretaris Eksekutif What’s Up Cafe tidak menampik kondisi tersebut. Meski penjualan masih stabil di kisaran Rp 30 juta per bulan, pihaknya tidak lantas berleha-leha.

Justru pihaknya kerap memberikan iming-iming supaya tetap bisa mengundang pengunjung datang. Misalnya ada pertunjukan musik atau live music. Ia berharap dengan fasilitas tersebut, konsumen tidak cuma datang sekedar makan saja tapi juga bisa sebagai ajang tempat berkumpul.

Selain itu pihaknya juga terus mengembangkan racikan bumbu supaya berbeda dan punya ciri khas ketimbang kedai sejenis. Saat ini kedai tersebut punya beragam menu seperti indomie laksa, chessy cream, ayam asam manis, ayam geprek, serta beef bulgogi. Harganya dipatok dari Rp 6.000 sampai Rp 24.000 per porsi.

What’s Up Cafe didirikan oleh Valentino Ivan bersama Ayu Zulia Shafira pada Mei 2015. Saat ini jumlah gerai ada 10 unit yang tersebar di Bandung, Jakarta, Bekasi, hingga Pontianak. Ria memastikan, pihaknya juga akan menambah gerai anyar lagi di BSD, Yogyakarta hingga Manado.

Kelesuan usaha juga dirasakan Andy Leonardo pemilik Warung Si Boy asal Surabaya, Jawa Timur. Menurutnya, konsumen mulai jenuh dengan menu makanan ini. Omzetnya pun merosot sekitar 50% sejak Desember 2016. Bahkan ada resto sejenis yang sudah tutup usahanya.

Selain bosan dengan menu yang itu-itu saja, Andy mengaku patokan harga mi kreasi cukup mahal untuk kantong pelanggan. Ia membanderol harga mi kreasi antara Rp 13.000 sampai Rp 14.000 per porsi. Dia harus memutar otak untuk mempertahankan bisnis agar terus berjalan. Seperti menambah varian produk non mie, seperti nasi dan lainnya. Fasilitas Wifi, hingga potongan harga.

Jumlah kedai mie kreasi yang mulai muncul tahun lalu tersebut hingga kini tinggal menyisakan enam kedai.  Menu mi kekinian sempat populer beberapa waktu lalu. Terutama di kalangan kawula muda. Lantaran ada ragam taburan menu di atas mie yang berbahan dasar mi instan tersebut. Tak sekadar telur atau kornet, ada pula keju, ayam panggang hingga daging steak.

Source Bisnis Kedai Mi Gaul Yuk, tengok bisnis kedai mi gaul!
Comments
Loading...