Cara Menjadi Beautypreneur

Cara Menjadi Beautypreneur

Menjadi beautypreneur tidak harus merintis segalanya dari nol. Bagi masyarakat yang memiliki passion tinggi di industri kecantikan namun tak memiliki latar belakang ilmu yang berkaitan dengan industri, bisa membeli franchise. Di Indonesia, ada puluhan franchise yang bergerak di industri kecantikan, ada salon, spa, maupun klinik kecantikan.

Masing-masing membidik fokus dan segmen ber­beda. Konsep yang ditawarkan ada yang business op­portunity (BO), lisensi, ada pula franchise mumi, yang berarti masyarakat harus ikut aktif mengelola bisnis, tidak hanya membeli franchise kemudian ongkang-ongkang kaki di rumah. Investasi yang ditawarkan pun beragam, ada yang hanya puluhan juta, tapi ada juga yang mema­tok miliaran rupiah.

Setiap merek franchise memiliki kelebi­han dan kekurangan masing-masing. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi, sebelum Anda menen­tukan pilihan, harus cerdik dan teliti. Franchise yang menawarkan investasi sekitar Rp l miliar, di antaranya Taman Sari Royal Heritage Spa, Martha Tilaar Day Spa, House of Ristra, Alfons Hair & Beauty, atau Lutuye Salon.

Levita Supit, Ketua Umum Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) me­nuturkan bahwa tren bisnis kecantikan mengalami peningkatan 20-25% bila dibandingkan tahun lalu. Namun, ia mengingatkan pentingnya memilih lokasi usaha. Kalau usaha menyasar kelas menengah atas, maka lokasi harus berada di tempat elit atau pusat kera­maian.

Taman Sari menawar­kan investasi Rp1,5 miliar. Taman Sari menyasar segmen konsumen kelas menengah atas. Maka, manajemen Taman Sari amat mempertimbang­kan pemilihan lokasi. Pihak Taman Sari mengisyarat­kan calon franchisee memiliki lokasi seluas 400 m2dan bukan di Ruko.Meski tak murah, masyarakat yang berminat menjadi franchisee masih tetap melimpah.

Bagi calon investor yang memiliki dana dan lokasi terbatas, Taman Sari menawarkan franchise untuk sec­ond brand mereka, yaitu Jasa Princess dengan nilai in­vestasi sekitar Rp 750 juta. Selain Java Princess, franchise vang mematok antara Rp 200 juta hingga Rp 900 juta, antara lain Poetre Wax & Spa, MozS, Kiddy Cuts, Salon Rudy Hadisuwarno, atau My Salon. Sementara itu, franchise yang menawarkan investasi di bawah Rp 200 juta terdapat nama Pourvous, Tirta Ayu V-Spa, atau Nailpia Nail Salon.

Bagi sebagian franchisor, memawarkan kerja sama franchise bukan hanya soal ekspansi bisnis. Martha Tilaar, misalnya, memiliki visi memberdayakan pe­rempuan dan membantu lahirnya entrepreneur baru. Martha Tilaar ingin menularkan virus-virus entrepre­neurship ke sebanyak mungkin perempuan. Itu sebab­nya, ia memilih mengembangkan bisnis salon dan spa dengan konsep franchise.

Palupi mengingatkan bahwa bisnis pe­rawatan kecantikan, seperti spa, merupakan bisnis jang­ka panjang. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pengembalian modal (return on investment, ROI) cukup panjang.Bisnis spa bukan bisnis ritel minimarket atau kuliner yang bisa mudah ditemui orang di sudut jalan.

Source Cara Menjadi Beautypreneur Cara Menjadi Beautypreneur
Comments
Loading...