Faktor Penyebab Runtuhnya 7-Eleven Di Indonesia

Faktor Penyebab Runtuhnya 7-Eleven Di Indonesia

Pertumbuhan bisnis 7-Eleven di Indonesia ternyata tidak bisa sinambung (sustainable) dalam jangka panjang. Buktinya, penjualan per sembilan bulan 7-Eleven pada tahun 2016 turun menjadi Rp526 miliar dari Rp686 miliar pada tahun 2015.

Menjadi penyebabnya adalah Peraturan Menteri Perdagangan tahun 2015 yang membatasi peredaran dan penjualan minuman beralkohol. Serta tekanan dari pendatang baru seperti Lawson dan Family Mart yang menawarkan harga yang lebih murah ketimbang 7-Eleven.

Tak heran jika sepanjang tahun 2016 ada 20 gerai 7-Eleven yang ditutup, dan pada awal 2017 ada 30 gerai lagi yang ditutup karena dinilai merugi. Puncaknya, pada 30 Juni 2017 seluruh gerai 7-Eleven di Indonesia tutup, menyusul kegagalan akuisisi oleh Charoen Pokphand.

Faktor Penyebab Runtuhnya bisnis 7-Eleven di Indonesia

REGULASI

Bisnis 7-Eleven di Indonesia benar-benar terpukul oleh regulasi dari pemerintah. Yang pertama adalah keharusan 7-Eleven untuk memiliki dua izin, yakni izin operasional sebagai convinience storedan sebagai restoran.

Pengurusan dua jenis izin ini banyak dikatakan menghambat ekspansi gerai 7-Eleven terutama ke luar area Jabodetabek. Padahal ekspansi gerai merupakan syarat mutlak yang bisa menopang pertumbuhan bisnis 7-Eleven.

Regulasi kedua yang memukul bisnis 7-Eleven adalah pelarangan penjualan minuman beralkohol. Pelarangan ini membuat 7-Eleven kehilangan para pelanggan idealnya, di mana para pembeli minuman beralkohol terkenal sebagai big spenderyang royal dalam berbelanja produk-produk lainnya di samping minuman beralkohol.

Dua regulasi pemerintah ini benar-benar melumpuhkan model bisnis 7-Eleven di Indonesia, sementara mereka sudah terlanjur agresif dalam melakukan langkah-langkah ekspansi, termasuk dengan pendanaan yang berasal dari pinjaman komersial perbankan yang bunganya bahkan lebih dari 16% p.a., di antaranya dari Bank Mayapada dan Bank Mandiri.

PELANGGAN ALAY

Pelarangan penjualan minuman beralkohol membuat 7-Eleven hanya kebanjiran para pelanggan yang masuk kategori alay,di mana nilai belanja mereka minim namun bisa berjam-jam menghabiskan waktu dengan nongkrongdi gerai-gerai 7-Eleven sambil memanfaatkan fasilitas wifi-nya. Dengan tipe pelanggan seperti ini, gerai-gerai 7-Eleven tentu kesulitan dalam menutup biaya operasionalnya.

POSITIONINGTANGGUNG

Dengan hengkangnya para pembeli minuman beralkohol, maka positioning7-Eleven di Indonesia terasa tanggung. Produk-produk 7-Eleven (terutama makanan dan minuman freshsiap saji) terlalu premium untuk pasar yang tersisa (yang sebagian besar terdiri atas pelanggan alay) namun tidak cukup premium untuk bisa dijual dengan harga seperti produk-produk katakanlah Starbucks.

PESAING TAK TERDUGA

Selain dari gerai-gerai sejenis seperti Lawson dan Family Mart, hantaman persaingan ternyata juga datang dari bistro, kedai kopi atau kafe “rumahan” yang menawarkan produk dan experienceserupa dengan harga yang bisa jadi lebih rendah dibandingkan dengan harga 7-Eleven. Dengan biaya operasional yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan 7-Eleven, tentu saja kafe-kafe rumahan seperti itu bisa terus bertahan, sementara 7-Eleven harus terpental dari persaingan.

TATA KELOLA YANG BURUK

7-Eleven harus menampung eks karyawaan Fujifilm yang bisa jadi tidak memiliki kualifikasi yang pas untuk menjalankan bisnis ritel atau restoran. Lalu, ditengarai juga bahwa sejumlah kepala dan staf gerai yang “nakal” kerap melakukan penyelewengan yang sangat merugikan perusahaan.

Source https://kumparan.com/ https://kumparan.com/mombang-sihite/growth-strategy-7-eleven-dihabisi-regulasi
Comments
Loading...