Kisah Sukses 7-Eleven Di Indonesia Hingga Tumbang

Kisah Sukses 7-Eleven Di Indonesia Hingga Tumbang

Gerai 7-Eleven (Sevel) telah hadir di Jakarta sejak tahun 2009 lalu. Waralaba yang berbasis di Dallas, Texas, Amerika Serikat itu dikelola oleh PT Modern Putra Indonesia (MPRI). MPRI memperoleh hak dan lisensi dari 7-Eleven Inc untuk mengembangkan dan mengoperasikan gerai 7-Eleven di Pulau Jawa.

Di Indonesia untuk masa 20 tahun dan masa perpanjangan kontrak 10 tahun. Sejak pertama kali hadir, gerai 7-Eleven tumbuh dan berkembang. Gerai yang terkenal dengan minuman Slurpee ini menjadi tempat favorit anak muda untuk menghabiskan waktu bersama.

Selain itu, 7-Eleven juga menyediakan fasilitas wifi gratis, berbagai macam makanan ringan, kopi, hingga beberapa minuman beralkohol yang membuat gerai ini semakin digandrungi anak muda. Di tahun 2009 7-Eleven baru memiliki gerai 1 unit.

Kemudian bertambah cukup signifikan di tahun 2010 menjadi 21 unit. Di tahun 2011, jumlah gerai kembali bertambah menjadi 57 unit dan naik lagi di tahun 2012 menjadi 117 unit. Di tahun 2013, gerai 7-Eleven kembali bertambah menjadi 150 unit. Bahkan 7-Eleven membuka gerai di sejumlah pusat bisnis dan stasiun. Puncaknya terjadi di tahun 2014 di mana 7-Eleven memiliki 190 unit.

Pada tahun 2015 jumlah gerai yang dimiliki 7-Eleven susut 2 unit menjadi 188 unit. Hal tersebut berlanjut di tahun 2016 lalu, jumlah gerai 7-Eleven kembali susut menjadi 175 unit. Pada tahun 2015 juga pemerintah melarang penjualan minuman beralkohol melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 6 tahun 2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan Terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol.

Susutnya jumlah gerai 7-Eleven mempengaruhi kinerja induk perusahaan 7-Eleven, PT Modern International Tbk (MDRN). Di kuartal III-2016, penjualan MDRN anjlok 31 persen dari Rp 962,80 miliar menjadi Rp 660,67 miliar.

Sementara itu di sepanjang tahun lalu, perseroan juga mengalami kerugian Rp 162,02 miliar. Padahal di tahun 2015, MDRN memperoleh laba Rp 11,77 miliar. Nilai ekuitas perusahaan juga turun dari Rp 1,2 triliun menjadi Rp 1,1 triliun. Begitu juga nilai aset turun dari Rp 2,4 triliun menjadi Rp 2,3 triliun.

Pada 23 Mei 2017, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sempat berencana untuk mengakuisisi 7-Eleven. Namun, pihaknya perlu mendapat persetujuan dari pihak pemegang label 7-Eleven di Amerika Serikat.

Dengan rencana penjualan bisnis 7-Eleven yang bernilai Rp 1 triliun. Sebelumnya Modern International berniat agar penjualan bisnis itu, dapat memberikan dana segar kepada MSI. Guna membayar pinjaman bank, modal kerja, maupun utang lainnya. Perseroan juga menjalankan usaha sebagai distributor peralatan kesehatan media di bawah merk Shimadzu dan Sirona.

Rencana tersebut ternyata batal karena tak ada kesepakatan di antara kedua pihak. Direktur Modern International Chandra Wijaya melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 21 Juni 2017 menyatakan, pembatalan rencana transaksi material untuk penjualan dan transfer segmen bisnis restoran dan convenience store merek waralaba 7-Eleven antara perseroan melalui anak usaha, dengan Charoen Pokphand Indonesia. Hingga pada 30 Juni 2017 kemarin, seluruh gerai 7-Eleven di Indonesia resmi ditutup. Sevel hanya bertahan sekitar 8 tahun di Indonesia.

Source https://kumparan.com/ https://kumparan.com/@kumparanbisnis/kilas-balik-7-eleven-sejak-muncul-ke-indonesia-hingga-tumbang
Comments
Loading...