Kisah Sukses Agung Nugroho Susanto

Kisah Sukses Agung Nugroho Susanto

Meski sangat awam dengan bisnis laundry kiloan, Agung Nugroho Susanto memberanikan diri membuka Simply Fresh Laundry di Yogyakarta. Karena tarifnya lebih miring, usaha laundy kiloan Agung berkembang pesat. Sekarang, ia memiliki 165 gerai yang tersebar di 50 kota di Indonesia. Omzetnya Rp 3 miliar sebulan.

Berawal dari keinginan untuk mandiri dan mengikuti jejak orang-orang yang sukses dalam berwirausaha, Agung Nugroho Susanto akhirnya memutuskan fokus menggarap bisnis laundry kiloan dengan nama Simply Fresh Laundry.

Pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mulai terjun ke dunia bisnis cuci baju ini pada Februari 2006. Meski kala itu statusnya masih mahasiswa, ini tidak menjadi hambatan bagi Agung untuk berbisnis.

Hanya denganbermodalkan satu mesin cuci dan satu mesin pengering, ia pun memulai usaha laundry kiloan di Kota Gudeg. Modalnya saat itu hanya berasal dari pinjaman orang tua dan pinjaman dari suatu lembaga peminjam keuangan di Yogya.

Agung terbilang nekad. Karena, ia sangat awam dengan bisnis laundry. Namun, dia memiliki keyakinan, bahwa bisnis ini akan sukses. Asalkan mau berusaha pasti ada jalan. Ia tetap bersemangat untuk selalu mencoba dan berinovasi, serta bertanya ke sana ke mari soal sistem yang tepat dalam menjalankan bisnis laundry. Kunci utamanya, tidak boleh malu, berani menghadapi segala kendala yang ada, dan harus tetap selalu bersemangat.

Awalnya, Agung merupakan pelanggan laundry kiloan di sekitar kosnya. Peminatnya selalu ramai. Namun, ia melihat, usaha laundry kiloan yang ada di Yogyakarta masih memakai cara manual, yakni mengandalkan sinar matahari untuk proses pengeringan pakaian.

Itu sebabnya, saat terjun ke bisnis ini, Agung menciptakan inovasi baru dengan mempercepat proses layanan. Biasanya proses laundry membutuhkan dua sampai tiga hari, kami membuatnya menjadi empat jam saja. Tidak hanya itu, Agung juga melahirkan inovasi lainnya. Mulai dari penggunaan pengharum pakaian dengan tujuh aroma berbeda hingga metode sterilisasi air melalui sinar ultraviolet sehingga pakaian yang dicuci bebas dari bakteri.

Di awal membuka usaha laundry kiloan, Agung turun langsung membantu dua karyawan mencuci dan menyetrika pakaian. Dia juga tak sungkan berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain untuk mengambil cucian kotor dari para pelanggan, yang kebanyakan teman-teman kuliahnya.

Omzetnya di bulan pertama usahanya lumayan gede, Rp 8 juta. Tetapi, sebagian besar habis untuk menutup biaya operasional dan membayar gaji dua karyawannya. Agung belum mengejar keuntungan, tapi mencari pelanggan dulu yang banyak.

Hanya dalam tempo sebulan, Simply Fresh Laundry menjadi laundry kiloan favorit para mahasiswa di daerah Gejayan, mengalahkan tiga usaha laundry kiloan lain yang lebih dulu ada. Karena, tarif mencuci di Simply Fresh Laundry lebih murah, hanya Rp 2.500 per kilogram.

Konsumen juga boleh memilih jenis pewangi pakaian dan tak ada batas minimal berat pakaian yang ingin dicuci di Simply Fresh Laundry. Laundry kiloan lain biasanya hanya mau menerima minimal lima kilogram cucian.

Melihat pasar yang sangat menjanjikan, Agung kemudian membuka cabang di daerah Monumen Yogya Kembali dan Selokan Mataram. Modal tambahan dia pinjam dari Bank Perkreditan Rakyat dengan jaminan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB).

Meski makin sibuk berbisnis, Agung tetap bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu: empat tahun, dengan indeks prestasi 3,3. Kini, omzet Agung per bulan mencapai Rp 3 miliar yang berasal dari 165 gerainya yang tersebar di 50 kota di Indonesia. Total sudah ada sekitar 1.200 orang karyawan.

Agung sekarang tinggal di rumah seharga Rp 1,5 miliar, di perumahan elite di kawasan Monumen Yogya Kembali, Sleman. Di garasi rumahnya, terparkir dua mobil BMW seri 3201 keluaran 2009 dan seri 319i kelahiran 2005. Masih ada Kijang Innova dan tiga sepeda motor.

Awalnya, Agung Nugroho Susanto hanya mencoba membuka usaha tanpa target yang pasti. Dua usahanya pun rontok dalam hitungan bulan. Ia belajar banyak dari dua pengalaman itu. Di bisnis ketiga, Agung menetapkan fokus dan tujuan yang jelas. Ia pun turun tangan langsung di bisnis cuci baju.

Sebagai mahasiswa yang berasal dari keluarga serba berkecukupan, keinginan Agung Nugroho Susanto berwirausaha tidak langsung datang saat pertama kali ia duduk di bangku kuliah. Awalnya, ia hanya fokus lulus kuliah dengan indeks prestasi baik supaya mudah mencari pekerjaan di masa mendatang.

Kegiatan yang dia jalani pun sama seperti mahasiswa pada umumnya. Pagi sampai siang masuk kuliah, setelah itu ia mencari kegiatan untuk mengisi waktu kosong. Agung berkumpul bersama teman-temannya, berorganisasi, atawa menghabiskan waktu di rumah dengan kegiatan santai membaca buku atau menonton film.

Memasuki semester empat, dia mulai memutuskan berbisnis agar bisa hidup mandiri dan mengikuti banyak orang sukses dengan berwirausaha. Layaknya mahasiswa yang berniat membuka usaha, Agung pertama kali berbisnis pakaian anak muda lewat distro dan clothing yang memang sedang tren saat itu. Agung bekerja sama dengan seorang teman.

Dengan modal seadanya tanpa ada visi, misi, dan arah yang jelas, usaha tersebut tidak berkembang. Namun, pengalaman berbisnis pertama kali itu menjadi batu loncatan yang membuatnya mengerti dan memahami bisnis. Justru membuatnya jatuh cinta menjadi seorang wirausaha ketimbang pegawai.

Ia menjalani bisnis distro di sela-sela waktu kuliah, bergantian menjaga gerai. Di usaha pertamanya ini, Agung belajar bermacam istilah bisnis dan keuangan, seperti konsinyasi, akuntansi, pemasaran, distribusi, produksi, dan manajemen. Sebelumnya, hanya tahu sekilas saja sewaktu di bangku sekolah.

Sambil menjalankan bisnis distro, dia juga bergabung dengan temannya yang lain membuka usaha konter telepon seluler di salah satu mal di Yogyakarta. Di usaha ini, mentalnya benar-benar terlatih dalam menghadapi pelanggan. Kemampuan diplomasinya terasah terus dalam proses tawar-menawar dengan para pembeli.

Namun, nasib usaha keduanya itu sama saja seperti sebelumnya, gulung tikar karena tidak ada tujuan yang jelas. Berbagai kendala menghadang, mulai dari tidak fokus mengelola lantaran terlalu sibuk kuliah hingga tidak adanya ketidakcocokan dengan rekan bisnis.

Agung yakin usaha kerasnya pasti akan membuahkan hasil suatu saat nanti. Di semester enam, ia melihat peluang bisnis mencuci pakaian kotor atau laundry cukup menjanjikan. Bisnis ini juga cukup menjamur di Yogyakarta. Setiap sudut kota ada laundry.

Dengan modal satu mesin cuci dan satu mesin pengering, Agung mulai menjalankan bisnis pencucian baju dengan nama Simply Fresh Laundry. Ia mengeluarkan modal awal total Rp 30 juta yang diperolehnya dari sisa dua bisnis sebelumnya, ditambah pinjaman dari orang tua dan dari salah satu lembaga keuangan.

Agung sadar betul ketatnya persaingan bisnis cuci kala itu. Ia pun mencari cara membuat usahanya berbeda dari usaha-usaha cuci lain yang sudah ada. Kuncinya, berani mencoba dan berinovasi. Ia turun tangan langsung membantu pekerjanya ketika ada waktu di luar jam kuliah. Agung melakukan semua pekerjaan, mulai dari menghitung pakaian kotor, mengantar jemput pakaian konsumen, menyetrika pakaian, sampai dengan kerja lembur tidak tidur demi menjaga kualitas pelayanan.

Agung membuka layanan jasa cuci pakaian satu hari selesai. Namun, dengan jumlah mesin yang terbatas dan pegawai hanya dua orang, mau tidak mau ia harus terus menggiling pakaian 1×24 jam nonstop saat jumlah pakaian menumpuk.

Namun, usaha kerasnya tersebut terbayar lunas. Meski sibuk luar biasa, ia bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu selama empat tahun dengan indeks prestasi 3,3. Bisnisnya pun kini telah berkembang pesat. Dari Simply Fresh Laundry, Agung bisa memperoleh omzet miliaran rupiah dalam tempo sebulan saja. Ia pun berhasil menciptakan lapangan kerja dan kesempatan bisnis bagi banyak orang yang ingin bermitra dengannya.

Melihat banyak orang Indonesia yang ingin menginvestasikan uangnya tapi bingung mau bisnis apa, akhirnya Agung menawarkan waralaba usaha laundry-nya. Baginya sistem kemitraan merupakan solusi terbaik. Hasilnya, kini outlet Simply Fresh Laundry sudah mencapai 165 gerai, dan siap merangsek ke pasar Filipina.

Ketika teman-temannya yang lain mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan ringan, Agung Nugroho Susanto malah bekerja. Banyak kawannya yang bertanya-tanya, kenapa ia mau bersusah payah untuk menjadi seorang wirausahawan mengingat secara ekonomi orang tua Agung berkecukupan. Justru Agung menggunakan fasilitas yang ada dari orang tua untuk mendukung bisnis, sehingga nantinya saya bisa segera mandiri.

Agung memakai mobil pemberian orang tuanya untuk antar jemput pakaian pelanggan. Ia rela melakukan itu dari satu kos ke kos lain. Tapi, sejak berbisnis laundry, ia tidak pernah meminta uang dari orang tuanya lagi, kecuali untuk modal awal usaha.

Keinginan Agung untuk menjadi wirausahawan bukannya tanpa hambatan. Begitu lulus dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), kedua orang tuanya sempat mendesak ia melamar di salah satu bank nasional terkemuka.

Agung mengikuti keinginan orang tuanya tersebut. Tapi, ketika sudah mencapai tahap akhir tes masuk, timbul kebimbangan di hatinya antara meneruskan ujian akhir yang kemungkinan lolosnya cukup besar atau melanjutkan impian menjadi seorang pengusaha.

Akhirnya, ia memilih yang kedua. Untuk meyakinkan orang tuanya yang kecewa, Agung meminta waktu satu tahun untuk mengembangkan bisnis laundry-nya. Jika gagal, dia rela bekerja di mana pun sesuai dengan keinginan kedua orang tuanya.

Dengan bermodalkan kerja keras, dalam waktu setahun, outlet Simply Fresh Laundry berkembang menjadi 30 gerai. Akhirnya, orang tua mendukung penuh bisnis laundry yang Agung jalankan. Ia semakin bersemangat menjalankan usahanya. Berbekal ilmu bisnis dan keuangan yang dipelajari secara otodidak, Agung mewaralabakan bisnisnya. Agung lihat banyak orang Indonesia yang ingin menginvestasikan uangnya, tapi bingung mau bisnis apa dan tak berani mengambil risiko.

Sistem waralaba menjadi solusi terbaik. Ia menawarkan tiga paket investasi, mulai dari Rp 85 juta, Rp 104 juta, sampai Rp 145 juta, dengan biaya royalti 8% dari omzet setiap bulan pemegang merek Simply Fresh. Gerai waralaba pertama berdiri di Depok, Bintaro, Timika (Papua), dan Banda Aceh.

Hingga 2009, usaha binatu itu sudah berkembang mencapai 105 gerai dan 200 agen Simply Fresh. Agen merupakan anak gerai yang berfungsi sebagai pengumpul cucian kotor dan bersih. Pelanggan Simply Fresh meluas ke perusahaan, hotel, spa, hingga rumah sakit.

Memasuki tahun 2010, Simply Fresh bersiap masuk ke pasar Filipina. Melalui pameran waralaba terbesar di negara itu, 18th Philippine International Franchise Conference & Expo (PIFCE), Agung membuka stand Simply Fresh Laundry.

Agung menilai, karakter penduduk Filipina memiliki kemiripan dengan Indonesia, menyukai jasa layanan cuci baju kiloan. Jadi, banyak calon master franchise yang tertarik dengan konsep bisnis Simply Fresh karena sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Filipina.

Tak puas dengan usaha laundry, Agung mulai merambah bisnis lain, yakni guest house atau mini hotel dengan bendera Simply Homy Guest House. Saat ini, sudah ada tiga unit yang siap beroperasi dan enam lainnya dalam tahap final renovasi gedung di Yogyakarta.

Menurut Agung, kunci suksesnya selama ini karena dia memegang teguh moto 3K: Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan Kerja Ikhlas. Ibarat mengerjakan pekerjaan berat, butuh tenaga yang ekstra. Namun, akan lebih mudah kalau menggunakan alat bantu. Tetapi, seringan apa pun pekerjaan kalau tidak dilaksanakan dengan ikhlas, maka tetap saja pekerjaan itu akan berat.

Hanya, di Indonesia tidak mudah menjadi pengusaha. Kendalanya banyak, mulai dari susah mendapat modal hingga perizinan yang berbelit-belit. Pemerintah belum mendukung wirausahawan secara optimal, apalagi masih banyak birokrat yang korup.

Source Kisah Sukses Agung Nugroho Susanto Agung Nugroho Susanto
Comments
Loading...