Kunci Sukses Franchise 7- Eleven

Kunci Sukses Franchise 7-Eleven

Setiap gerai 7-Eleven menjadi tempat pelatihan dan di kantor pusat juga ada pusat pelatihan khusus. 7-Eleven mempunyai tenaga pengajar dari bekas karyawan toko dan saya sendiri juga ikut mentraining mereka.Melihat kinerja hingga sejauh ini, tampaknya manajemen MPI merasa bisnisnya sudah berjalan on the track.  Tahun 2010 membuka 21 toko 7-Eleven. Tahun 2011 buka 57 toko dan tahun 2012 ini 67 toko. Sampai dengan akhir tahun bisa lebih dari 100 gerai. Henri yakin, prospek 7-Eleven akan sangat luas karena yang digarap belum seluruh Jakarta. Wilayah Jakarta Utara, misalnya, baru mulai digarap. Ia membandingkan di Thailand yang penduduknya 70 juta jiwa sudah ada 7.000 gerai 7-Eleven. Satu gerai melayani 10.000 orang.

7-Eleven kini sudah menjadi tulang punggung baru bagi bisnis PT Modern International Tbk. yang dikontrol keluarga Honoris itu. Komisaris MPI, Sungkono Honoris, akhir tahun lalu menyebutkan, kontribusi 7-Eleven terhadap Modern International cukup baik. Dari total pen-jualan Modern International sebesar Rp 415 miliar, 32% merupakan kontribusi 7-Eleven. Ke depan 7-Eleven menargetkan dapat memberikan kontribusi hingga 40%. Prestasi yang sangat menarik karena 7-Eleven baru aktif berjualan tahun 2010.

Dalam waktu dekat ini pihaknya akan mewaralabakan bisnisnya ke kalangan investor di Indonesia. Untuk diwaralabakan harus menguntungkan investor, pengelola dan pemillik gerai.7-Eleven ingin menjadi pilihan investasi dan pekerjaan yang baik untuk investasi dan buat masyarakat. Saat ini, selain sedang melakukan berbagai kalkulasi, pihaknya juga sedang membangunjaringan TI guna pengembangan waralaba kelak. TI very important. Sebagai pemain waralaba, sistemnya harus berjalan dan membutuhkan teknologi yang harus selalu siap. Kami akan gunakan sistem TI yang berstandar internasional namun yang sesuai dengan kebutuhan operasional saat ini.

MPI menargetkan bisa membangun 1.000 gerai 7-Eleven di wilayah Jabodetabek dalam waktu 10 tahun ke depan. Untuk merealisasi pembangunan 1.000 gerai itu, MPI akan menggandeng para pengusaha kecil dan UKM sebagai mitra waralaba. Kuartal I/2012 ini dikabarkan mereka sudah mulai melakukan pelatihan bagi franchisee.

Abdi R. Sastrawinata, konsultan dari MarkPlus Institute of Marketing, dalam analisisnya sempat menyebut, kunci sukses 7-Eleven ialah kecerdikannya menggarap segmen anak muda. Segmen youth merupakan salah satu sub-culture yang patut diperhitungkan oleh para marketer di Indonesia bila ingin menguasai mind¬share pelanggan.

Mengapa ? Youth selalu tertarik merasakan dan memberikan respons terhadap berbagai hal baru dipasar. Mereka cenderung adaptif terhadap segala bentuk perubahan. Hal ini menjadikan mereka sangat cocok dijadikan kekuatan yang akan mengonfirmasi berbagai macam produk baru. Dengan menggandeng youth sebagai partner, perusahaan akan dapat leading in the mind of customer dengan cepat. Dia melihat 7-Eleven sukses menggeser positioning ritel dari se¬mula sebagai tempat untuk berbelanja menjadi tempat yang nyaman untuk hangout. 7-Eleven kini tidak lagi dicitrakan sebagai convenience store, tetapi lebih mirip seperti kombinasi antara restoran, minimarket dan tempat hangout.

Achmad Setyo Hadi, pengajar Prasetiya Mulya, melihat, penetrasi 7-Eleven di Indonesia memang terbilang sukses. Dalam pandangannya, sesungguhnya yang dijual bukan produk makanan atau minuman, melainkan gaya hidup. Kuncinya, dia bermain di segmen yang orang belum masuk dan menjual brand asing. Di Indonesia, bila produk itu terkait life style, potensi brand impor akan sangat menarik. 7-Eleven terbukti sukses mengoptimalkan modal ekuitas mereknya untuk masuk di Indonesia. Dalam pandangannya, tidak akan ada masalah walaupun Grup Modern kompetensi asalnya di bisnis jualan kamera, sekarang bisnis ritel dan gaya hidup. Kompetensi seperti itu ada pada level operasional, sangat mudah dicari. Karyawan dari perusahaan lain bisa dibajak. Dari tiga jenis kompetensi (skill, knowledge dan attitude), sepanjang untuk hal-hal yang masih kompetensi operasional, tidak akan sulit didapatkan di pasar. Yang lebih sulit diraih bila terkait knowledge.Dari sisi manajemen SDM dan kompetensi operasional, 7-Eleven tidak akan kesulitan.

Kalau ingin sukses secara sustainable, 7-Eleven mesti bermain pada skala besar. Harus memperbanyak outlet-nya segera sebelum pemain-pemain lain yang punya brand kuat dan dari asing juga ikut masuk. Bila itu terj adi, persaingan akan seru. 7-Eleven sudah diuntungkan karena ia lebih dulu masuk. Namun, ada kendala untuk ekspansi cepat. Dia melihat pada aspek perizinan, karena saat ini pergerakan minimarket dari perusahaan besar semakin dibatasi di daerah. Banyak regulasi yang menghambat. Hal ini harus diantisipasi agar skala bisnis tetap menarik dan bisa membesar. Selain itu, ke depan 7-Eleven tetap perlu high profile dengan melakukan co-branding dengan pemain-pemain besar diindustri lain, misalnya pemain seluler dan perbankan. 7-Eleven butuh kendaraan agar ia tetap pada posisi pertama, secara marketing, SDM, dan sumber daya lain agar bila ada pemain besar asing lainnya dari luar, tetap bisa lebih eksis.

7-Eleven tidak boleh lengah dan merasa puas dengan sukses di awal penetrasi saat ini.Sukses di awal ini jelas tak menjamin masa depannya. Apalagi di bisnis ritel ini, dan juga bisnis apa pun, cenderung akan banyak didatangi pemain baru bila terbukti sudah ada satu pemain sukses dan menikmati kue di pasar. Henri sendiri tampaknya tidak terlalu mencemaskan ancaman pesaing. “Just like play football. Business is a game. Si lawan masukkan bola, bila kita tidak bisa menahan, kita akan kemasukan 10 bola. Jadi, kita harus bisa masukkan 50 bola segera, bikin produk baru”. Mesti much open more and must be faster. Jadi, bisa dipastikan tentakel 7-Eleven akan semakin membesar

Source Kunci Sukses Franchise 7-Eleven Sukses Franchise 7-Eleven
Comments
Loading...