Michelle Valentina, Berbisnis Karena Terinspirasi Anak

Michelle Valentina, Berbisnis Karena Terinspirasi Anak

Anak tidak hanya menjadi sumber kebahagian bagi orangtua, tapi juga menjadi sumber inspirasi. Hal tersebut terjadi pada Marketing Director Jumping Clay Indonesia, Michelle Valentina. Dia membuka bisnis di bidang pendidikan karena terinspirasi dari putri tercintanya yang menyukai clay (tanah liat, Red) unik asal Korea.

Berbisnis di dunia pendidikan pada awalnya bukanlah minatnya. Apalagi, sebelumnya, ia telah berkarier di industri periklanan cukup mapan dan merupakan lulusan dari sekolah desain. Namun, hal itu langsung berubah ketika bersama keluarganya bertamasya ke Thailand.

Kala itu, sang anak, Shania Rose Limardo, bermain jumping clay, yaitu materi seperti tanah liat yang terbuat dari polymer clay dan diciptakan khusus untuk membentuk berbagai hal. Shania mampu dan betah bermain selama berjam-jam hanya untuk membentuk tokoh-tokoh favoritnya. Permainan itu tidak tidak dibantu dengan menggunakan alat lain dan hanya menggunakan kekuatan imajinasi dan kreasi tangan.

Sejak itu, Michelle pun semakin tertarik terhadap jumping clay. Karena, alat permainan tersebut ternyata tidak hanya berfungsi sebagai mainan yang bermanfaat untuk melatih motorik halus anaknya yang kini memasuki usia tujuh tahun. Jumping clay pun sangat bagus sebagai sarana edukasi anak-anak.

Permainan sangat penting bagi anak-anak. Sebab, anak-anak tengah berada pada masa perkembangan otak yang sangat progresif. Pada masa itu, bakat serta potensi akademis dan nonakademis dari anak mulai bermunculan, yang salah satunya bisa dikembangkan melalui pendidikan seni usia dini.

Michelle juga menyampaikan bahwa pembentukan karakter anak yang optimal sangat bergantung dari proses tumbuh kembang anak pada usia dini. Perubahan fisik, perkembangan kognitif, emosi, maupun perkembangan psikososial mendasar, akan terjadi pada masa infancy toddlerhood di usia 0-3 tahun, early childhood usia 3 – 6 tahun, dan middle childhood pada usia 6-11 tahun.

Karena ketertarikannya pada jumping clay, Michelle pun bertanya kepada pemilik waralabanya di Thailand dan ingin mendatangkannya ke Indonesia. Setelah ditelusuri, ia akhirnya tahu bahwa permainan tersebut sebenarnya berasal dari Korea dan telah hadir di 35 negara, di antaranya Thailand, Singapura, Jepang, Tiongkok, dan Brasil.

Yang lebih hebat lagi, di Inggris, permainan tersebut saat ini telah menjadi kurikulum tambahan untuk para pelajar. Ditambah lagi, dia semakin tertarik bahwa di Indonesia permainan itu belum ada. Karena itu, keinginan untuk mendatangkannya ke Indonesia semakin besar. Setelah bernegosiasi, pemilik hak waralabanya di Korea setuju memberikan lisensi “Jumping Clay” kepadanya.

Jumping clay sebenarnya tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak, tapi bisa untuk para orangtua yang tengah mengalami masalah demensia dan mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Permainan ini bisa membantu meningkatkan kesadaran karena aktivitasnya banyak memerlukan dan harus mengasah daya ingat.

Selain itu, pihaknya menawarkan berbagai pilihan acara kursus, workshop, dan pesta yang dapat dinikmati semua kalangan. Para instrukturnya yang telah bersertifikat pun siap memperkenalkan art work di rumah, sekolah, kamar anak, rumah asuh, pusat komunitas, acara-acara perusahaan, bridal atau baby shower, dan hiburan ulang tahun.

Melihat luasnya manfaat dari bisnis yang ditekuni, Michelle pun membuka peluang bagi orang lain untuk dapat menyebarluaskan dan berbagi bisnis jumping clay dengan sistem waralaba. Namun, ia tidak akan sembarangan dalam memilih terwaralabanya.

Salah satu syarat yang diharapkan dimiliki mitra adalah mempunyai passion terhadap dunia pendidikan anak. Bisnis itu memerlukan komitmen jangka panjang agar lebih optimal bisa memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, terutama anak-anak.

Source http://www.beritasatu.com/ http://www.beritasatu.com/figur/216319-berbisnis-karena-terinspirasi-anak.html
Comments
Loading...