Perjalanan Awal Rangga Umara

Perjalanan Awal Rangga Umara

Awal saya membuka restoran adalah dengan modal Rp 3 juta, sewa tempat Rp 250.000 per bulan, kemudian beli etalase bekas. Saya mulai bisnis ini di daerah Pondok Kelapa (Jakarta Timur) dengan semangat tinggi. Tapi hasil yang saya peroleh awalnya malah membuat saya ragu-ragu dengan pilihan saya sebagai pengusaha.

Menjadi pengusaha itu enak, duitnya banyak. Tapi ternyata sama sekali enggak ada enak-enaknya, yang ada malah minus, rugi, enggak ada yang beli, harus bayar gaji karyawan tiap bulan dan saya sendiri enggak gajian. Kondisi ini berlangsung dari bulan pertama sampai bulan kelima. Saya sempat berada di fase persimpangan, meneruskan bisnis ini atau balik lagi menjadi karyawan, melamar lagi ke perusahaan.

Saat di fase persimpangan itu, saya merenungkan semuanya. Mengevaluasi setiap tindakan yang saya ambil, di mana saja yang salah. Orang bilang produknya enak dan setelah dievaluasi, ternyata lokasi yang saya pilih tidak strategis, tidak di pinggir jalan.

Jadi, banyak orang yang tidak tahu kalau saya membuka restoran pecel lele. Yang tahu ya cuma karyawan dan keluarga saja. Dulu orang bilang asal makanannya enak, orang-orang pasti mencari. Hal itu ternyata tidak berlaku karena saat ini yang penting adalah bagaimana ketersediaan produk kita di dekat pelanggan.

Akhirnya karena tidak punya modal untuk mencari lokasi baru di pinggir jalan, saya mulai menginisiasi “gerakan warung sepi”. Ini gerakan di mana saya mulai mencari warung-warung yang sepi pembeli, tapi mereka berada di lokasi strategis.

Biasanya warung mereka sepi bukan karena enggak ada pasarnya, tapi karena mismanagement. Setelah saya amati satu bulan, saya dapat lokasi yang tidak jauh dari lokasi lama saya. Saya pun mulai memberikan penawaran dan berkali-kali ditolak.

Sampai akhirnya ada yang mau dan ini menjadi pembelajaran bagi saya tentang bagaimana melakukan persuasi kepada orang. Bayangkan kalau saya menyerah, Lele Lela pasti enggak ada. Di lokasi baru ini, saya hanya meneruskan warung punya pemilik sebelumnya.

Bahkan saya enggak perlu sewa tempat dan saya boleh pakai seluruh peralatannya. Saya hanya dimintai setoran setiap bulan saja. Begitu deal dan berjalan, ternyata perubahannya ibarat langit dan bumi. Penghasilan yang saya peroleh pun lebih besar dari gaji yang saya terima saat masih jadi karyawan.

Akhirnya saya semakin punya keyakinan untuk merencanakan kehidupan saya. Buat rencana hidupmu sendiri atau seumur hidup kamu akan menjadi bagian dari rencana hidup orang lain. Meski kita super-rajin, kalau enggak punya rencana hidup, maka hidup kita akan selalu direncanakan orang.

Saya sekarang punya rencana hidup. Kalau sekarang punya satu cabang dengan penghasilan Rp 3 juta per bulan maka dalam satu tahun saya harus bisa punya 10 cabang. Rencana jangka panjang dalam lima tahun harus ada 100 cabang.

Keyakinan itu yang membawa saya bisa survive sampai sekarang. Karena pada akhirnya sekarang bukanlah semata tentang hitungan berapa cabang dan materi lagi, melainkan bagaimana bicara tentang kelanggengan, improvement, dan membawa bisnis ini lebih baik lagi.

Source http://www.beritasatu.com/ http://www.beritasatu.com/figur/182279-buat-rencana-hidup-sendiri.html
Comments
Loading...