Perjalanan Karier Rangga Umara Sebelum Berbisnis Restoran

Perjalanan Karier Rangga Umara Sebelum Berbisnis Restoran

Sebelum memutuskan berbisnis, saya dulu bekerja di kantor developer. Tapi karena proyeknya tersendat, kantor ini terpaksa merumahkan sebagian besar karyawannya, termasuk saya. Saat teman-teman saya yang lain membuat lamaran untuk diajukan ke perusahaan-perusahaan lain.

Ia berpikir kalau saya melamar-lamar lagi, ujung-ujungnya pasti di-PHK lagi. Padahal, ia lebih senang bekerja di perusahaan-perusahaan yang belum establish. Karena saya berharap di perusahaan-perusahaan itu bisa belajar lebih banyak.

Biasanya kalau sudah bekerja di perusahaan yang establishmaka kita hanya menjadi bagian dari sistem. Sedangkan risiko bekerja di perusahaan yang belum berkembang adalah rawan PHK. Kalau terakhir kali saya melamar lagi, sudah pasti kena PHK yang tertunda.

Sudah tiga kali kena PHK di perusahaan yang berbeda. Ya karena itu tadi, perusahaannya belum berkembang. Akhirnya dari situ, saya putuskan untuk berbisnis. Tiga kali di-PHK membuat saya memperoleh pencerahan agar menjadi seseorang dengan sebaik-baiknya jati diri, di mana nantinya jati diri kita akan kelihatan. Dengan membaca banyak buku yang menginspirasi, itu menjadi modal saya untuk menemukan jalannya.

Dulu ia kepikiran untuk bisnis bidang komputer karena biasanya untuk berbisnis disesuaikan dengan bidang pendidikan. Kalau latar belakang pendidikan saya komputer, apalagi kalau enggak buka warnet atau rental komputer? Itu sudah saya coba sebelumnya, tapi bagi saya justru enggak menantang.

Waktu di-PHK terakhir, saya punya buku catatan kecil yang selalu saya bawa ke mana-mana, saya sebut dream book. Di dalam buku itu ada keinginan saya untuk punya restoran, padahal saya sama sekali enggak bisa masak.

Saya cari orang yang bisa masak. Saya berbisnis pecel lele mulai tahun 2006. Waktu memutuskan untuk buka restoran, saya harus mencari konsep yang pas karena saya melihat di Jakarta banyak orang yang menjual makanan, tapi enggak semuanya bisa bertahan.

Saya melihat yang bisa bertahan adalah mereka yang punya konsep atau idealisasi yang tepat. Misalnya, nasi goreng, bakso, dan makanan-makanan yang umumnya sudah dikenal orang. Biasanya yang menghadirkan konsep unik atau aneh, hanya muncul sesaat, kemudian hilangnya juga cepat. Apalagi saya punya prinsip harus mampu mempertahankan pelanggan.

Akhirnya mata saya tertuju pada warung pecel lele. Warung pecel lele ini ada di mana-mana. Saya berkeliling Indonesia dan hampir di semua tempat ada warung pecel lele. Ini tanda-tanda bahwa market pecel lele itu luas.

Saya suka lele malah sejak kuliah. Tadinya enggak suka, tapi setelah mencoba ternyata enak, akhirnya ketagihan. Saya juga melihat bahwa sebenarnya lele masih bisa dikembangkan, bahkan kita enggak perlu capei-capai memperkenalkannya lagi. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana membuat masakan lele dengan kemasan dan bentuk berbeda, tidak sama dengan lele-lele yang ada pada umumnya. Sampai akhirnya saya mantap berbisnis pecel lele.

Source http://www.beritasatu.com/ http://www.beritasatu.com/figur/182279-buat-rencana-hidup-sendiri.html
Comments
Loading...