Tips Sukses Berwaralaba : Makanan Tradisional

Berwaralaba Makanan Tradisional

Akhir-akhir ini banyak sekali menjamur bisnis waralaba diberbagai Daerah. Khususnya di kota-kota besar yang memiliki penduduk super sibuk, menjadi sasaran para pebisnis untuk mendirikan bisnis waralaba. Penduduk yang super sibuk pasti tidak memiliki waktu untuk melakukan hal lain, karena waktunya sudah habis untuk bekerja. Kesempatan tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh para pebisnis. Mungkin sudah paham dengan waralaba apa saja yang sekarang sedang banyak berkembang. Makanan cepat saji, seperti burger, ayam goreng, gorengan, sampai ke jasa laundry kini juga ada. Efek fenomena wisata kuliner memang benar-benar dahsyat.

Kebanyakan waralaba saat ini mengusung tema Luar Negeri. Khususnya dalam bidang makanan, banyak sekali waralaba yang menjual makanan dengan Bahasa Inggris dan makanan tersebut tidak berasal dari Indonesia. Contoh bisnis makanan yang mengusung tema Luar Negeri antara lain Mister Burger, Kebab Turki, Hot Dog, Kentang Goreng, dan lain-lain. Jarang sekali waralaba yang menjual makanan dengan produk asli Indonesia. Waralaba yang menjual makanan asli Indonesia yang bisa ditemui seperti Martabak Semut, Gorengan, Es Buah, dan lain-lain.
Jika ingin membuka waralaba makanan traditional, mungkin akan sedikit mengurangi persaingan. Karena tidak banyak yang menjual makanan tradisional. Akan tetapi dalam bisnis waralaba makanan tradisional membutuhkan kerja keras yang ekstra agar bisa dikenal masyarakat luas. Mengingat saat ini zaman sudah berubah, terlebih lagi anak muda pada zaman sekarang kurang menyukai makanan tradisional. Untuk itu memang dibutuhkan strategi pemasaraan yang sangat Kreatif dan Inovatif.
Jika menjadi salah satu orang yang ingin mengembangkan dan terjun dalam bisnis waralaba makanan tradisional, maka yang harus dipersiapkan banyak sekali. Berikut ada 14 tips sukses dalam berwaralaba makanan tradisional antara lain:
  1. Memiliki Hasrat  Untuk Menjual Makanan

    Memiliki hasrat untuk menjual makanan yang diinginkan juga menjadi modal penting. Untuk berbisnis retail (perdagangan eceran), harus menyukai bidang yang akan digeluti. Sehingga, kondisi usaha sedang naik maupun turun, akan tetap tekun menjalaninya.

  2. Riset dan Berunding

    Meneliti terlebih dahulu pihak yang menjual waralaba, yang disebut juga franchisor, yang diinginkan. Bandingkan dengan Franchisor lain yang sejenis. Jangan membeli usaha dari Franchisor yang tidak jelas identitasnya. Jika perlu, cek ke lembaga waralaba yang ada di Indonesia. Jika memang Franchisor tersebut resmi dan bagus, bisa dipastikan akan terdaftar. Bila memang suka, barulah berunding untuk mendapatkan kesepakatan.

  3. Cek

    Mengecek usaha terwaralaba yang diinginkan ke orang yang sudah lebih dulu menjadi Franchise, baik yang masih berjualan maupun yang tidak. Tanya pendapat mereka. Meski satu sama lain belum tentu punya kepuasan yang sama, agar mendapatkan gambaran lebih tentang usaha tersebut.

  4. Hak Cipta

    Meneliti terlebih dahulu hak cipta makanan milik terwaralaba yang sudah diincar untuk dibeli. Jangan sampai hak cipta yang diklaim olehnya, ternyata milik pihak lain dan akhirnya bisa bermasalah.

  5. Lama dan Kuat

    Jika tidak suka risiko tinggi dan kurang berjiwa bisnis, pilih terwaralaba yang sudah lama berjalan, setidaknya 5 tahun, memiliki sistem kuat, misalnya memiliki banyak cabang dan manajemen bagus, serta bermodal besar. Usaha yang masih baru, belum cukup teruji menghadapi siklus roda bisnis.

  6. Kondisi Keuangan

    Sebelum memutuskan membeli, periksa dulu kondisi keuangan terwaralaba. Jika perlu, minta bantuan akuntan publik atau pakar keuangan untuk membaca laporan keuangan terwaralaba.

  7. Bayar di muka

    Hati-hati bila terwaralaba meminta seluruh modal harus disetorkan di muka. Mungkin kondisi keuangan terwaralaba tidak bagus. Selain itu, kini banyak terwaralaba yang baru muncul, meminta modal di muka hanya karena ingin menarik initial fee (biaya yang diperlukan untuk memulai bisnis) dari pewaralaba, lalu kabur. Lebih baik, cari terwaralaba yang pembayarannya fleksibel artinya pembayarannya bisa dilakukan bertahap.

  8. Cadangan

    Saat usaha baru berjalan, biasanya perputaran modal belum berjalan lancar. Daripada usaha langsung tutup karena kekurangan modal, lebih baik sediakan dana cadangan. Pastikan memiliki modal yang cukup, setidaknya untuk 3 bulan ke depan. Jika membutuhkan Rp 10 juta untuk modal berwaralaba, misalnya, sebaiknya mempersiapkan dana sebesar Rp 30 juta.

  9. Turn Over

    Hitung berapa keuntungan per bulan yang didapatkan dari usaha waralaba ini. Jika hasilnya memang bagus, silakan melangkah lebih lanjut.

  10. Inventori

    Sebaiknya, pilih terwaralaba yang tidak membutuhkan banyak inventori, misalnya, mesin-mesin dan barang besar. Sebab, akan membutuhkan modal lebih banyak lagi. Lebih baik menjalankan usaha yang padat karya daripada padat modal.

  11. Kreatif dan Disiplin

    Meski semua ilmu dari terwaralaba sudah ditransfer, tetap harus kreatif dalam mencari pelanggan, disiplin membuat laporan keuangan, dan menerapkan aturan main yang sudah ditetapkan. Jangan terlalu percaya diri, sebab membeli waralaba yang bagus bukan jaminan makanan akan selalu laris, jika tak dibarengi dua hal ini. Namun, bukan berarti  bebas menjual hasil masakan kreasi sendiri tanpa seizin terwaralaba.

  12. Banyak Penggemar

    Agar laris, pilih waralaba yang menjual jenis makanan yang banyak digemari dan tidak terlalu sulit dibuat antara lain Mie, Ayam Goreng, Daging Sapi, Soto, Donat, dan Kue. Selain itu, teliti lebih lanjut berapa orang pelanggan yang datang ke tempat terwaralaba yang diincar.

  13.  Kualitas

    Pembeli yang datang tentu mengharapkan makanan di cabang miliknya memiliki rasa dan kualitas layanan yang sama dengan pemilik usaha aslinya. Jadi, kontrol terus kualitas makanan dan manajemen agar pembeli tidak kecewa. Mutu daging dan cara membakar wijen misalnya harus sama dengan yang dijalankan terwaralaba. Patuhi peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan terwaralaba.

  14. Kelola Sendiri

    Agar lebih terkontrol dan menghindari kecurangan dalam keuangan, kelola sendiri waralaba yang dibeli, dan jangan diserahkan kepada orang lain.

Source Tips berwaralaba Ingin berwaralaba 14 kunci sukses
Comments
Loading...