Waralaba Siomay Shanghai

Waralaba Siomay Shanghai

Siomay Shanghai berdiri sejak 2007 di Semarang, Jawa Tengah. Bisnis ini dirintis pasangan suami istri Andreas C. Sugihartono dan Meita Cynthia. Awalnya Andreas membuat siomay untuk pesanan acara-acara saja. Karena penghasilannya pasif, mulai tahun lalu mereka tidak mau lagi menggantungkan produksi pada pesanan. Akhirnya, Andreas dan istri mencoba memasarkan siomay buatan mereka sendiri.

Siomay Shanghai hasil racikan pasangan suami istri ini tidak seperti siomay lain yang hanya memakai ikan tengiri sebagai bahan baku. Siomay Shanghai lebih variatif. Siomay Shanghai lebih mirip dimsum, tapi halal. Isi siomay meliputi daging ayam, udang, plus ikan tenggiri. Selain itu, masih ada variasi rasa lain, seperti sosis, telur, makroni, jamur, jagung manis, kismis, dan rebung.

Tidak seperti kebanyakan penjual siomay yang melego dagangannya per porsi, siomay Shanghai dijual per satu siomay. Satu siomay cukup besar, sehingga makan dua buah juga sudah kenyang. Siomay Shanghai mematok harga Rp 5.000–Rp 7.000 per buah, tergantung lokasi berjualan. Di kota besar seperti Jakarta, misalnya, harga jualnya bisa mencapai Rp 7.000 per buah.

Pasangan ini mulai menawarkan kemitraan pada 2009. Saat ini Siomay Shanghai sudah memiliki 17 mitra yang tersebar di Jakarta, Kudus, Purwokerto, dan Palembang. Dari 17 gerai tersebut, hanya dua gerai yang dikelola sendiri oleh keluarga Andreas, sisanya dikelola oleh mitra.

Modal untuk menjadi mitra bisnis Siomay Shanghai hanya Rp 7,5 juta. Kerja sama kemitraan berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang. Dengan biaya kemitraan sebesar itu, mitra akan mendapatkan peralatan seperti gerobak, kompor dua tungku, tabung elpiji, panci pengukus, penggorengan, serta piring.

Mitra juga tidak perlu susah-susah membuat siomay. Bahan baku didatangkan langsung dari Semarang memakai peti boks es berkapasitas 340 siomay plus saos-sambalnya. Jadi, mitra tinggal memasak dan menjualnya.

Soal tempat usaha, mitra sebaiknya mencari lokasi yang ramai seperti permukiman penduduk, pasar, atau pusat perbelanjaan. Yang pasti, Siomay Shanghai tidak menganjurkan berjualan di pinggir jalan raya berjalur cepat. Nanti tempat yang diajukan akan disurvei dulu.

Dari pengalaman yang ada, setiap gerai bisa menjual minimal 75–250 siomay per hari. Katakanlah bisa menjual 75 siomay, mitra sudah bisa kembali modal atau break even point (BEP) dalam tiga bulan. Bisnis ini bisa BEP cepat karena tidak membutuhkan biaya operasional besar. Biaya operasional hanya meliputi gaji satu sampai dua orang karyawan, sewa tempat, dan biaya pembelian gas elpiji.

Info Kemitraan

Siomay Shanghai
Line : @dcd9573o (Pakai @)
Instagram : @siomayshanghai.smg

Source Waralaba Siomay Shanghai Mengudap untung dari kenyalnya kemitraan siomay
Comments
Loading...