Waralaba Sosis Bakar Aldriz Solution (A2S)

Waralaba Sosis Bakar Aldriz Solution (A2S)

Muhammad Ashuri merupakan pendiri Sosis Bakar Aldriz Solution sejak 2011 silam di Jakarta Selatan. Saat itu juga, ia langsung menawarkan kemitraan usaha. Pada Februari 2015, jumlah mitra A2S mencapai 150 mitra di berbagai wilayah di Indonesia, tanpa satu gerai milik pribadi karena hanya ingin fokus mengelola mitra usaha. Saat ini sudah ada 200 mitra yang bergabung, kebanyakan dari Jakarta dan Sulawesi.

Ada enam paket kemitraan usaha yang ditawarkan. Pertama, paket hemat seharga Rp 4,4 juta. Fasilitas yang didapatkan booth portable, kompor panggang empat tungku, spanduk, peralatan usaha, bahan baku awal dan juga panduan standard operating procedure (SOP).

Kedua, paket mini Rp 4,7 juta. Perbedaan dua paket di atas ini terletak pada jenis booth yang didapatkan, yaitu booth gerobak mini. Ketiga, paket mini dengan nilai investasi Rp 5 juta yang mendapatkan booth yang lebih eksklusif. Paket keempat dan kelima masing-masing senilai Rp 6 juta dan Rp 9 juta. Perbedaannya terletak pada jenis gerobak dan kelengkapan alat.

Terakhir, ada paket kombinasi senilai Rp 8,5 juta. Mitra akan mendapat fasilitas yang sama, namun dengan tiga pilihan hingga empat pilihan menu, seperti sosis bakar, minuman bubble, dan kentang ulir. Paket ini banyak dipilih mitra karena efisien dan menarik untuk dijual ke pembeli.

Soal menu, Sosis Bakar Aldriz Solution disajikan dalam beberapa rasa pilihan rasa, seperti keju, barbeque, blackpaper, chicken frank, beef frank, jumbo, dan koktail. Harga jual produk berkisar Rp 8.000-Rp 10.000 per porsi. Tetapi Ashuri bilang, terkadang harga jual tergantung lokasi.

Salah satu kendala yang dihadapi Ashuri adalah banyak pelaku usaha baru dengan lini bisnis sama. Ini membuat persaingan semakin ketat. Tahun ini, ia optimistis bisa menggandeng 10 mitra-15 mitra tiap bulan. Dalam kaca mata Konsultan Waralaba Koerussalim Ikhsan, tren penurunan dalam bisnis sosis bakar ini sangat wajar. Nilai investasi yang ditetapkan cukup kecil dan tidak ada ikatan dengan pengelola pusat. Secara sederhana dapat dikatakan masuk ke bisnis ini cukup mudah, keluar pun juga mudah.

Selain itu, dengan nilai investasi yang kecil pemilik usaha menjadi mudah tidak sabar. Begitu hasilnya kurang baik, usahanya lalu ditutup. Kemitraan seperti ini biasanya juga tidak dikerjakan langsung oleh mitra, tetapi oleh karyawan atau asisten rumah tangga supaya bisa menjadi penghasilan tambahan. Dengan pengelolaan “asal-asalan” seperti ini, bisnis menjadi minim inovasi. Jika ingin bertahan di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, inovasi mutlak diperlukan.

Beberapa waktu lalu juga ada kemitraan burger yang mitranya mencapai 3.000-an. Tetapi karena minim inovasi dan tidak dikelola secara serius oleh mitra, bisnisnya menjadi tidak berkembang. Kalau ada pemilik usaha yang menilai bahwa jajanan sosis bakar sudah tidak tren lagi, Salim menganggap anggapan itu kurang pas. Kalau pemilik usaha tidak berusaha menangkap permintaan pasar dan melakukan inovasi, setiap bisnis, tak hanya sosis bakar, pasti  akan sulit berkembang.

Info Kemitraan

Source Waralaba Sosis Bakar Aldriz Solution (A2S) Sosis Bakar Aldriz Solution (A2S)
Comments
Loading...